Catatan kecil seorang guru sejarah di tengah zaman kecerdasan buatan
“Bu, kalau sekarang ada AI, kita masih perlu belajar sejarah?”
Pertanyaan itu muncul begitu saja di tengah pelajaran.
Saya sempat diam beberapa detik.
Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi justru karena pertanyaan itu terasa lebih besar daripada kelihatannya.
Di hadapan saya ada anak-anak yang hidup di zaman yang sangat berbeda dengan zaman ketika saya seusia mereka. Ketika saya dulu ingin mengetahui sesuatu, saya harus membuka buku, mencari ensiklopedia, atau bertanya kepada guru. Mereka sekarang cukup mengetik beberapa kata.
Dalam hitungan detik, sebuah jawaban bisa muncul.
Bahkan bukan hanya satu.
Ada puluhan, ratusan, mungkin ribuan.
Maka saya balik bertanya kepada mereka,
“Kalau AI bisa membantu kalian menemukan jawaban, menurut kalian, sekolah harus mengajarkan apa?”
Kelas menjadi lebih sunyi.
Dan mungkin, pertanyaan itu memang layak kita renungkan bersama.
Saya adalah seorang guru sejarah.
Karena itu, ketika memikirkan pertanyaan tersebut, pikiran saya justru berjalan mundur.
Jauh sebelum ada internet.
Jauh sebelum ada mesin pencari.
Jauh sebelum kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik.
Saya teringat pada seorang guru dan pembaru pendidikan dari Kauman, Yogyakarta: K.H. Ahmad Dahlan.
Ahmad Dahlan hidup pada masa ketika pendidikan bukanlah sesuatu yang dapat diakses dengan mudah oleh semua orang. Pada awal abad ke-20, bangsa Indonesia berada dalam situasi penjajahan dengan berbagai keterbatasan sosial dan pendidikan.
Namun Ahmad Dahlan tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana seseorang menjadi berilmu.
Ia membawa pendidikan ke pertanyaan yang lebih jauh:
Untuk apa ilmu itu digunakan?
Pertanyaan sederhana itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.
Melalui Muhammadiyah, yang didirikannya pada 1912, Ahmad Dahlan mengembangkan gerakan pendidikan dan sosial yang berusaha menghadirkan Islam tidak hanya sebagai pengetahuan yang dipelajari, tetapi sebagai nilai yang diwujudkan dalam kehidupan.
Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.
Pengetahuan harus memiliki dampak.
Pemahaman harus melahirkan kepedulian.
Dan ilmu seharusnya mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Lebih dari satu abad kemudian, tantangan kita memang berbeda.
Ahmad Dahlan hidup dalam zaman ketika akses terhadap pendidikan dan pengetahuan sangat terbatas.
Kita hidup dalam zaman ketika pengetahuan justru berlimpah.
Anak-anak kita dapat mencari hampir apa saja.
Mereka dapat bertanya kepada Google.
Mereka dapat menonton video pembelajaran.
Mereka dapat membaca buku digital.
Dan sekarang, mereka dapat berdialog dengan kecerdasan buatan.
Kalau begitu, apakah sekolah harus merasa terancam?
Saya kira tidak.
Justru mungkin kita perlu melihat perubahan ini sebagai kesempatan untuk mengingat kembali tujuan pendidikan.
Karena ketika jawaban semakin mudah diperoleh, nilai pendidikan tidak lagi hanya terletak pada kemampuan mendapatkan jawaban.
Nilainya ada pada apa yang kita lakukan setelah mendapatkan jawaban tersebut.
Bayangkan seorang siswa bertanya kepada AI:
“Bagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia?”
Dalam beberapa detik, ia bisa mendapatkan penjelasan yang cukup panjang.
Tetapi pelajaran sejarah tidak selesai di sana.
Guru sejarah masih perlu mengajak siswa bertanya:
Siapa yang menulis sejarah itu?
Dari sudut pandang siapa?
Apakah semua orang mengalami peristiwa tersebut dengan cara yang sama?
Mengapa ada versi cerita yang berbeda?
Apa yang tidak tercatat?
Dan yang paling penting:
Apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman manusia di masa lalu untuk menghadapi persoalan kita hari ini?
Di titik itu, sejarah menjadi lebih dari sekadar hafalan.
Dan pendidikan menjadi lebih dari sekadar pemberian informasi.
Mungkin inilah salah satu pelajaran penting yang bisa kita tarik dari perjalanan pendidikan yang dirintis Ahmad Dahlan.
Ilmu tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ilmu seharusnya membuat seseorang lebih peka terhadap sekitarnya.
Lebih mampu melihat persoalan.
Lebih berani melakukan perubahan.
Dan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang diketahuinya.
Di zaman AI, gagasan itu terasa semakin penting.
Sebab kita mungkin akan hidup dalam dunia ketika kemampuan mengetahui sesuatu bukan lagi sebuah keistimewaan.
Hampir semua orang dapat bertanya.
Hampir semua orang dapat memperoleh informasi.
Hampir semua orang dapat meminta mesin membantu menyusun sebuah jawaban.
Tetapi tidak semua orang mampu menilai jawaban.
Tidak semua orang mampu memahami akibat dari sebuah keputusan.
Dan tidak semua orang bertanya:
“Setelah saya mengetahui ini, lalu apa yang harus saya lakukan?”
Maka mungkin sekolah di masa depan tidak perlu berlomba menjadi tempat yang paling banyak memberikan jawaban.
Mesin akan selalu lebih cepat dalam hal itu.
Sekolah memiliki pekerjaan yang berbeda.
Sekolah harus menjadi tempat di mana anak belajar berpikir sebelum percaya, bertanya sebelum menyimpulkan, dan mempertimbangkan sebelum bertindak.
Sekolah harus menjadi ruang untuk belajar bekerja sama dengan manusia lain.
Belajar menghadapi perbedaan.
Belajar mendengarkan.
Belajar mengakui kesalahan.
Belajar bahwa tidak semua persoalan memiliki jawaban sederhana.
Dan belajar bahwa pengetahuan memiliki konsekuensi.
Bukankah pada akhirnya pendidikan memang bukan hanya tentang membuat seseorang menjadi pintar?
Pendidikan adalah tentang membuat kepintaran itu memiliki arah.
Kembali pada pertanyaan siswa saya tadi:
“Kalau sekarang ada AI, kita masih perlu belajar sejarah?”
Saya mungkin akan menjawab:
“Iya. Justru karena sekarang ada AI, kita perlu belajar sejarah.”
Sebab sejarah mengajarkan kita bahwa manusia tidak pernah hidup di ruang kosong.
Setiap teknologi lahir dari zaman tertentu.
Setiap perubahan membawa peluang sekaligus persoalan.
Dan setiap generasi harus menentukan sendiri bagaimana ia akan menggunakan pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya.
Generasi Ahmad Dahlan menghadapi tantangan zamannya dengan membangun sekolah, menggerakkan masyarakat, dan menjadikan ilmu sebagai bagian dari perubahan sosial.
Generasi setelahnya memperjuangkan kemerdekaan.
Generasi berikutnya membangun negeri.
Dan generasi anak-anak kita akan menghadapi dunia yang semakin terdigitalisasi, semakin cepat, dan semakin dipenuhi kecerdasan buatan.
Mereka akan memiliki alat yang mungkin jauh lebih hebat daripada yang pernah kita bayangkan.
Tetapi justru karena itulah, kita perlu memastikan bahwa kemampuan menggunakan alat tidak berjalan lebih cepat daripada kemampuan memahami tujuan.
Mungkin suatu hari nanti seorang anak tidak lagi bertanya kepada gurunya tentang sebuah fakta sejarah.
Ia bisa bertanya kepada AI.
Tidak apa-apa.
Mungkin suatu hari nanti AI dapat menjelaskan sebuah peristiwa sejarah dengan lebih cepat daripada seorang guru.
Tidak apa-apa.
Mungkin suatu hari nanti teknologi dapat membantu anak belajar dengan cara yang bahkan belum kita bayangkan.
Juga tidak apa-apa.
Sebab guru tidak pernah seharusnya hanya menjadi tempat menyimpan jawaban.
Dan sekolah tidak pernah seharusnya hanya menjadi tempat menghafalkan pengetahuan.
Yang harus kita jaga adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar:
kemampuan manusia untuk berpikir, merasa, memilih, dan bertanggung jawab.
Ahmad Dahlan mengajarkan kita bahwa ilmu harus memiliki kehidupan.
Bahwa pendidikan harus menyentuh masyarakat.
Bahwa pengetahuan seharusnya tidak membuat kita berhenti pada “tahu”, tetapi bergerak menuju “peduli” dan “melakukan”.
Mungkin itulah yang perlu kita bawa ke ruang kelas hari ini.
Ketika semua orang bisa punya jawaban, kita tidak perlu takut.
Kita hanya perlu memastikan bahwa anak-anak kita tidak kehilangan kemampuan untuk bertanya:
“Mengapa?”
“Benarkah?”
“Untuk siapa?”
Dan akhirnya:
“Apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya ketahui?”
Karena mungkin, di masa depan, kecerdasan bukan lagi tentang siapa yang paling cepat menemukan jawaban.
Melainkan siapa yang paling bijaksana dalam menggunakan jawaban tersebut untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.
