
Kita semua pernah berada pada posisi tidak tahu.
Tidak tahu cara melakukan sesuatu. Tidak tahu harus memulai dari mana. Tidak tahu bagaimana menyelesaikan sebuah persoalan.
Dan itu bukan sesuatu yang memalukan.
Tidak ada manusia yang sejak lahir langsung mampu melakukan semuanya. Banyak hal dalam hidup harus dipelajari perlahan. Kita belajar dari orang lain, dari buku, dari pengalaman, bahkan dari kesalahan yang kita buat sendiri.
Yang menjadi persoalan adalah ketika ketidaktahuan mulai terasa nyaman.
Ketika setiap kali menemukan kesulitan, pilihan pertama kita bukan mencari tahu, melainkan mencari seseorang yang bisa mengerjakannya.
Mungkin awalnya hanya dalam hal-hal kecil.
Meminta bantuan memasang sesuatu. Bertanya cara menggunakan aplikasi. Meminta dibuatkan dokumen. Meminta seseorang menunjukkan cara melakukan pekerjaan tertentu.
Sekali, dua kali, mungkin tidak masalah.
Namun, bagaimana jika hal tersebut terus berulang tanpa pernah ada usaha untuk belajar?
Pada titik tertentu, kita bukan lagi sedang meminta bantuan.
Kita sedang membangun ketergantungan.
Tidak Bisa dan Tidak Mau Belajar Adalah Dua Hal yang Berbeda
Ada perbedaan besar antara seseorang yang tidak bisa dengan seseorang yang tidak mau belajar.
Orang yang tidak bisa biasanya akan berkata:
“Saya belum tahu. Bisa tolong ajari saya?”
Kemudian ia mencoba.
Mungkin gagal.
Ia mencoba lagi.
Mungkin masih salah.
Ia bertanya kembali, mencatat, mencari informasi, lalu mencoba sampai akhirnya bisa.
Sementara itu, ada pula orang yang ketika menghadapi sesuatu yang sulit langsung berkata:
“Saya nggak bisa.”
Lalu berhenti.
Bukan karena benar-benar tidak mampu, tetapi karena ada pilihan yang terasa lebih mudah: meminta orang lain mengerjakannya.
Perbedaannya memang terlihat kecil.
Tetapi jika dilakukan terus-menerus, hasilnya bisa sangat jauh berbeda.
Orang pertama semakin berkembang karena mau belajar.
Orang kedua tetap berada di tempat yang sama karena merasa nyaman dengan ketidakmampuannya.
Kita Tidak Harus Bisa Semuanya
Tentu saja, bukan berarti kita harus menjadi orang yang mampu melakukan segala sesuatu sendiri.
Itu tidak mungkin.
Ada hal-hal yang memang lebih baik diserahkan kepada orang yang ahli. Seorang dokter membutuhkan dokter lain ketika sakit. Seorang guru juga tetap membutuhkan orang lain untuk belajar. Bahkan orang yang sangat ahli sekalipun masih memiliki banyak hal yang tidak ia kuasai.
Meminta bantuan bukanlah kelemahan.
Justru, mengetahui kapan harus meminta bantuan adalah sebuah kemampuan.
Yang perlu diperhatikan adalah apa yang kita lakukan setelah mendapatkan bantuan tersebut.
Apakah kita hanya ingin masalah selesai?
Atau kita juga ingin memahami bagaimana masalah itu bisa diselesaikan?
Karena ada perbedaan antara:
“Tolong kerjakan untuk saya.”
dan
“Tolong ajari saya agar saya bisa mengerjakannya sendiri.”
Yang pertama menyelesaikan masalah hari ini.
Yang kedua mungkin membutuhkan waktu lebih lama, tetapi memberikan kemampuan untuk menghadapi masalah yang sama di masa depan.
Ketergantungan Bisa Terlihat Biasa
Dalam kehidupan sehari-hari, ketergantungan sering kali tidak terlihat sebagai sesuatu yang buruk.
Di rumah, mungkin kita selalu meminta orang lain memperbaiki sesuatu.
Di lingkungan pertemanan, kita selalu meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Di sekolah, kita mungkin terbiasa menunggu teman yang lebih paham.
Bahkan di tempat kerja, seseorang yang lebih menguasai teknologi atau administrasi bisa menjadi orang yang selalu dicari ketika ada kesulitan.
Membantu tentu bukan masalah.
Bekerja bersama juga merupakan sesuatu yang baik.
Namun ada satu hal yang perlu kita tanyakan:
Apakah kita sedang menggunakan bantuan orang lain untuk belajar, atau menggunakan bantuan orang lain agar kita tidak perlu belajar?
Karena keduanya terlihat sama dari luar.
Tetapi dampaknya berbeda.
Jangan Sampai Kebaikan Orang Lain Menjadi Alasan Kita Tidak Berkembang
Ada orang-orang yang memang senang membantu.
Mereka tidak keberatan menjelaskan.
Tidak keberatan mengajari.
Bahkan sering kali mereka memilih mengerjakan sendiri karena merasa akan lebih cepat selesai.
Namun, tanpa disadari, kebaikan seperti ini terkadang justru membuat orang lain semakin nyaman untuk bergantung.
Hari ini dibantu.
Besok dibantu lagi.
Lusa meminta bantuan untuk hal yang sebenarnya sudah pernah diajarkan.
Akhirnya terbentuk sebuah kebiasaan:
Yang mau belajar semakin mampu.
Yang selalu bergantung semakin nyaman untuk tidak belajar.
Dan orang yang selalu membantu pun pada akhirnya bisa merasa lelah.
Bukan karena ia tidak mau membantu.
Tetapi karena ia sadar bahwa sebagian beban yang ia pikul sebenarnya bukan miliknya.
Belajar Memang Tidak Selalu Nyaman
Mungkin alasan terbesar mengapa seseorang malas belajar adalah karena belajar memang tidak selalu menyenangkan.
Belajar membuat kita harus mengakui bahwa kita belum tahu.
Kita harus bertanya.
Kita harus mencoba.
Kita mungkin melakukan kesalahan.
Bahkan terkadang kita harus merasa bodoh untuk sementara waktu sebelum akhirnya menjadi lebih mampu.
Namun bukankah hampir semua kemampuan dalam hidup juga dimulai dari ketidaktahuan?
Orang yang sekarang pandai menggunakan komputer, dulu juga pernah kebingungan.
Orang yang sekarang mahir membuat laporan, dulu juga pernah melakukan kesalahan.
Orang yang sekarang mampu berbicara di depan banyak orang, mungkin dulu juga gemetar ketika pertama kali berdiri di depan kelas.
Tidak ada kemampuan yang muncul tanpa proses.
Kemampuan adalah hasil dari sesuatu yang terus dilatih.
Maka jangan terlalu cepat mengatakan “Saya tidak bisa.”
Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah:
“Saya belum bisa.”
Karena kata belum menyisakan kemungkinan.
Islam dan Pentingnya Belajar
Dalam Islam, mencari ilmu juga memiliki kedudukan yang tinggi.
Allah Swt. berfirman:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu bukan hanya tentang sekolah, nilai, atau ijazah.
Ilmu juga tentang kemampuan memahami kehidupan dan memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Maka ketika ada kesempatan untuk belajar sesuatu yang bermanfaat, mengapa kita justru memilih untuk tetap tidak tahu?
Mengapa memilih bergantung jika sebenarnya kita memiliki kesempatan untuk menjadi mandiri?
Pada Akhirnya, Kita Semua Perlu Bercermin
Tulisan ini mungkin terasa seperti sedang membicarakan orang lain.
Tentang orang yang malas.
Tentang orang yang selalu meminta bantuan.
Tentang seseorang yang tidak mau belajar.
Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
Bagaimana dengan diri kita sendiri?
Apakah pernah ada sesuatu yang sebenarnya bisa kita pelajari, tetapi kita memilih meminta orang lain karena merasa itu lebih mudah?
Apakah pernah kita mengatakan “tidak bisa” sebelum benar-benar mencoba?
Apakah pernah kita memanfaatkan kebaikan seseorang hanya karena kita tahu ia akan membantu?
Kita tidak harus menjadi orang yang serba bisa.
Kita juga tidak harus malu ketika membutuhkan bantuan.
Tetapi setiap kali mendapatkan bantuan, mungkin ada baiknya kita membawa pulang sesuatu selain pekerjaan yang selesai.
Bawalah juga pengetahuan.
Karena bantuan terbaik bukan selalu bantuan yang membuat pekerjaan kita selesai.
Terkadang, bantuan terbaik adalah bantuan yang membuat kita tidak perlu meminta bantuan untuk hal yang sama di kemudian hari.
Jadi, ketika suatu hari kita menghadapi sesuatu yang belum kita kuasai, mungkin jangan langsung bertanya:
“Siapa yang bisa mengerjakannya untuk saya?”
Cobalah bertanya:
“Siapa yang bisa mengajari saya agar saya mampu mengerjakannya sendiri?”
Sebab tidak ada yang salah dengan mengatakan:
“Saya belum bisa.”
Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika “belum bisa” berubah menjadi:
“Saya tidak perlu bisa, toh selalu ada orang yang akan membantu.”
Dan mungkin, pada akhirnya, persoalan kita bukan karena kita tidak mampu.
Kita hanya belum benar-benar mau belajar.
