
Oleh: Khurotin, S.PdI
Setiap bulan Agustus, suasana di berbagai pelosok negeri berubah menjadi lebih meriah. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, jalan-jalan dihiasi berbagai ornamen bernuansa kemerdekaan, berbagai perlombaan digelar, dan masyarakat berkumpul untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Semua itu tentu merupakan bentuk kegembiraan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Namun, ada satu hal yang akhir-akhir ini membuat saya sedikit merenung. Di tempat tinggal saya, peringatan kemerdekaan semakin sering diwarnai dengan penggunaan sound horeg dengan suara yang sangat keras dan berlangsung hingga larut malam.
Pertanyaannya kemudian adalah: apakah semakin keras suara yang kita dengarkan berarti semakin besar pula rasa cinta kita kepada kemerdekaan?
Merayakan Kemerdekaan atau Sekadar Mencari Kemeriahan?
Tidak ada yang salah dengan bergembira. Kemerdekaan memang layak dirayakan. Setelah para pejuang mengorbankan jiwa, raga, harta, bahkan nyawa untuk merebut kemerdekaan, sudah selayaknya generasi penerus mengisinya dengan kebahagiaan dan kegiatan positif.
Namun, kemeriahan seharusnya tidak membuat kita melupakan substansi dari peringatan kemerdekaan itu sendiri.
Kemerdekaan bukan sekadar panggung hiburan, bukan hanya suara musik yang menggelegar, bukan pula sekadar kerumunan masyarakat yang berkumpul untuk menikmati hiburan. Kemerdekaan memiliki sejarah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, persatuan, keberanian, dan tanggung jawab.
Ketika suara hiburan menjadi lebih dominan daripada pesan perjuangan, ketika pesta lebih diutamakan daripada rasa syukur, dan ketika kenyamanan sebagian orang mengorbankan ketenangan orang lain, kita perlu bertanya kembali: sudahkah kita benar-benar memahami arti kemerdekaan?
Jangan Sampai Suara Horeg Menenggelamkan Suara Sejarah
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa penggunaan sound horeg selalu salah. Musik dan hiburan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Perayaan yang meriah juga dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kemeriahan tersebut dilakukan secara berlebihan sehingga mengganggu masyarakat sekitar, terutama anak-anak, orang tua, orang yang sedang beristirahat, maupun mereka yang memiliki aktivitas keagamaan dan sosial lainnya.
Lebih jauh lagi, kita jangan sampai membiarkan suara hiburan menenggelamkan suara sejarah.
Ada suara para pahlawan yang seharusnya kita dengarkan kembali: suara perjuangan, suara pengorbanan, suara persatuan, dan suara harapan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, adil, makmur, dan bermartabat.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah. Kemerdekaan dibayar dengan pengorbanan yang sangat mahal.
Karena itu, peringatan HUT Kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk mengingat kembali jasa para pahlawan dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini?
Memaknai Kemerdekaan dengan Cara yang Lebih Bermartabat
Mungkin sudah waktunya kita mengembangkan bentuk perayaan kemerdekaan yang tidak hanya meriah, tetapi juga bermakna.
Kita bisa mengadakan kegiatan sosial, santunan anak yatim, kerja bakti, pengajian kebangsaan, lomba pendidikan, kegiatan olahraga, donor darah, penghijauan, bakti lingkungan, atau kegiatan lain yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Anak-anak dapat diajak mengenal sejarah perjuangan bangsa. Generasi muda dapat diberi ruang untuk menunjukkan kreativitas. Para warga dapat mempererat silaturahmi tanpa harus mengorbankan kenyamanan lingkungan.
Dengan demikian, perayaan kemerdekaan tidak berhenti pada “bersenang-senang karena Indonesia merdeka”, tetapi berkembang menjadi “bersyukur karena Indonesia merdeka dan berusaha mengisi kemerdekaan dengan kebaikan.”
Kemerdekaan Juga Berarti Menghargai Sesama
Ada satu makna kemerdekaan yang terkadang terlupakan: menghargai hak orang lain.
Kita memang merdeka untuk bergembira, tetapi orang lain juga merdeka untuk mendapatkan ketenangan.
Kita boleh menikmati musik, tetapi tetangga juga memiliki hak untuk beristirahat.
Kita boleh mengadakan kegiatan masyarakat, tetapi kegiatan tersebut idealnya tetap memperhatikan aturan, waktu, lingkungan, dan kepentingan bersama.
Inilah yang menurut saya menjadi bagian penting dari kedewasaan dalam berdemokrasi dan bermasyarakat. Kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa batas. Kemerdekaan selalu disertai dengan tanggung jawab.
Jangan Sampai Kita Salah Memahami Arti Merdeka
Para pahlawan dahulu berjuang agar bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan. Hari ini, tantangan kita tentu berbeda.
Kita harus berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, intoleransi, perpecahan, narkoba, kekerasan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Maka, bukankah lebih indah apabila energi dan semangat peringatan kemerdekaan diarahkan untuk membangun masyarakat?
Bukankah lebih bermakna jika anak-anak muda yang berkumpul dalam perayaan kemerdekaan juga diajak berbicara tentang masa depan bangsa?
Dan bukankah lebih baik jika kemeriahan peringatan kemerdekaan mampu meninggalkan kesan positif, bukan justru meninggalkan keluhan dari masyarakat sekitar?
Penutup: Merdeka Bukan Sekadar Ramai
Pada akhirnya, saya tidak ingin menghakimi siapa pun yang menyukai sound horeg ataupun hiburan dalam perayaan kemerdekaan. Setiap masyarakat tentu memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan kegembiraan.
Namun, menurut saya, kemeriahan jangan sampai mengalahkan makna.
Kita boleh membuat perayaan semeriah mungkin, tetapi jangan sampai lupa mengapa kita merayakannya.
Kita boleh menikmati hiburan, tetapi jangan sampai melupakan sejarah.
Kita boleh bergembira, tetapi jangan sampai kegembiraan kita mengganggu kebahagiaan dan ketenangan orang lain.
Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas bersuara, tetapi juga tentang belajar menghargai suara orang lain.
Kemerdekaan bukan hanya tentang berkumpul dan bersenang-senang, tetapi juga tentang bersatu dan saling peduli.
Dan kemerdekaan bukan hanya tentang seberapa meriah kita merayakannya, tetapi tentang seberapa besar kita mampu mengisinya dengan kebaikan.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Semoga di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, kita tidak hanya semakin pandai merayakan kemerdekaan, tetapi juga semakin dewasa dalam memaknai kemerdekaan.
Merdeka bukan sekadar ramai.
Merdeka adalah ketika kita mampu hidup dengan bertanggung jawab, saling menghargai, dan memberikan manfaat bagi sesama.
