
Belajar Akuntansi sering kali dianggap sebagai momok bagi sebagian siswa karena deretan angka dan logika debit-kredit yang membingungkan. Namun, suasana berbeda nampak di kelas XII AK. Di bawah bimbingan Ibu Arlys Firdauzie Berliana, S.Pd., pembelajaran Akuntansi yang biasanya kaku berubah menjadi sesi yang penuh keceriaan dan energi positif. Melalui pendekatan kreatif, beliau membuktikan bahwa memahami siklus keuangan tidak harus selalu dahi berkerut, melainkan bisa dilakukan dengan nada dan irama.
Bu Arlys memperkenalkan metode “Teknik Lima Jari” yang dipadukan dengan lagu sederhana namun sangat membekas di ingatan. Dalam sesi pembelajarannya, para siswa diajak bernyanyi bersama sambil menggerakkan jari-jemari mereka sebagai representasi akun-akun akuntansi. Liriknya yang unik menjadi kunci sukses para siswa dalam menguasai konsep dasar:
“Harta jempol, utang telunjuk, modal jari tengah,
pendapatan manis, beban kelingking. Teknik lima jari…
Harta beban itu di debet, yang berdiri di kredit…
Harta beban itu di debet, yang berdiri di kredit.”
Metode ini terbukti sangat efektif. Dengan mengasosiasikan setiap akun pada jari tertentu—seperti harta pada jempol hingga beban pada kelingking—siswa memiliki alat bantu visual dan kinestetik yang melekat secara permanen. Pengulangan lirik mengenai posisi debet dan kredit memastikan siswa tidak lagi tertukar dalam menentukan saldo normal akun.
Pembelajaran di kelas XII AK pun menjadi sangat seru dan menarik. Tidak ada lagi wajah lesu saat menghadapi jurnal umum; yang ada hanyalah semangat kolaboratif dan tawa ringan saat menyelaraskan gerakan jari dengan lirik lagu. Inovasi yang dilakukan oleh Ibu Arlys Firdauzie Berliana menunjukkan bahwa dedikasi seorang guru dalam menciptakan media ajar yang relevan dapat meningkatkan minat belajar siswa secara signifikan. Lewat lagu dan teknik lima jari, Akuntansi kini bukan lagi tentang menghafal rumus, melainkan tentang memahami harmoni keuangan dengan cara yang paling menyenangkan.
